Minggu, 25 Agustus 2013

Menjadi Ibu Teladan

DR.Muhammad Al-Arify mengisahkan tentang salah seorang sahabatnya yang suatu ketika berpergian naik mobil bersama temannya mengajak dua orang anaknya yang berumur sekitar 4 atau 5 tahun. Ia tahu bahwa teman nya itu bukanlah laki - laki yang taat didalam beragama, namun ketika mobil hendak naik ke jalan layang, serempak anak - anaknya bertakbir (Allahu Akbar).

Ia tahu, bahwa Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam dalam safarnya bila melalui jalan mendaki beliau bertakbir, dan bila menuruni lembah beliau bertasbih (Subhanallah). Rupa nya, anak - anak nya faham bahwa yang disunnahkan (dianjurkan) saat mobil menanjak adalah bertakbir. Dan yang disunnahkan saat mobil menurun adalah bertasbih. Ia heran, karena mengingat ayah nya bukan tipe laki - laki yang taat beragama, lalu dari manakah mereka memperoleh pendidikan secamam ini...?

Karena diusik rasa penasaran nya, ia pun bertanya secara terus terang : "Akhi, Masya Allah... Engkau bukanlah santri, dan bukan juga seorang aktivis -pelajar- tetapi anak - anank mu mampu menerapkan sunnah sedemikian rupa, apa rahasianya?"

"Ya Akhi, ini bukan hasil didikan saya, tetapi hasil didikan ibu mereka (isteri saya)." jawab teman nya.

"Isteri ku memang Masya Allah.! semoga Allah membalas kebaikan nya. Dia betul - betul ibu teladan.... Dialah yang mengajari anak - anak doa sebelum tidur, doa bangun tidur, doa sebelum makan, doa setelah makan, doa masuk WC, doa keluar WC dan doa ini dan doa itu... Bahkan dia memiliki cara unik dalam mendidik anak nya." lanjut teman nya.

"Bagaimana cara nya...?" tanya temanku.

Kata nya : "Kalau sekali waktu anak - anak bertengkar di rumah, lalu salah satu berkata kasar kepada saudara nya, maka isteri ku memanggilnya :
"Hai nak, sini sebentar..."

"Apa ma... mama hendak memukul ku ya....?" Tanya anak ku.

"Enggak kok, nggak mama apa - apapkan, mama cuma mau tanya : "Siapa yang lebih kau sayangi, Allah ataukah Syaithan?" kata isteri ku.

"Tentu aku lebih sayang Allah..." jawab anak ku polos.

"Tapi kamu sedang jadi teman nya syiathan sekarang (nak)..." kata ibu nya.

"Lho kenapa Ma...?" tanya anak ku.

"Karena kamu berkata kasar tadi.... Kalau kamu berkata kasar, kamu jadi teman nya syaithan. Tuh syaithan nya sekarang duduk diatas punggung mu, dan ia tertawa lebar mendengar ucapan (kasar) mu tadi..." kata ibu nya.

"Terus Ma..., bagaimana supaya syaithan nya menagis?" Aku tak mau jadi teman nya syaithan, aku mau jadi teman nya Allah...." kata anak ku.

"Ooo.... gampang. Kamu sekarang menghadap kiblat, lalu ucapkan Astaghfirullah seratus kali... hayo coba lakukan." kata ibu nya.

"Jadi kalau aku melakukan itu, Syaithan akan nangis ya..?" kata anak ku.

"Iya, kalau kamu melakukan nya syaithan pasti nangis..." jawab ibunya.

"Kalau begitu aku mau istighfar sekarang.. astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah... (dan seterusnya) udah belum ma?" kata anak ku.

"Belum... masih 50 lagi." kata ibu nya.

"astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah.. (dan seterusnya) udah belum?" tanya anak ku.

"Belum, masih 13 kali lagi.." kata ibunya.

" astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah..(dan seterusnya) udah?" tanya nya lagi.

"Ya, sudah..." kata ibu nya.

"sekarang syaithan lagi nangis ya ma?" kata anak ku.

"Iya, sekarang dia nangis." kata ibu nya.

"Kalau begitu aku mau istighfar lagi, supaya nangis nya lebih lama..." kata anak ku sambil menambah istighfar nya...

[Disadur dari khutbah DR.Muhammad Al-Arifi yang berjudul Mas-uuliyyatur Rajuli fi Usratihi dengan sedikit penyesuaian.

Terkadang ibu lebih berperan dalam mendidik anak daripada bapak, karena ibu lebih sering bertemu dengan anak nya daripada bapak.

semoga Allah menjadikan anak - anak kaum Muslimin, menjadi anak yang berbakti kepada kedua orangtua nya. aamiin.

Didiklah anak dengan baik, adapun cara ibu tadi mengajarkan istighfar 100 kali, adalah sang ibu ingin mengajarkan anak nya hadi

Didiklah anak dengan baik, adapun cara ibu tadi mengajarkan istighfar 100 kali, adalah sang ibu ingin mengajarkan anak nya hadits Nabi Shallallahu'alaih wa sallam :

تُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ فَإِنِّيْ أَتُوْبُ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ
‘Bertaubatlah kalian kepada Allah dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari semalam sebanyak seratus kali.’” (HR Muslim) via Prima Ibnu Firdaus Al-Mirluny

0 comments:

Poskan Komentar