Senin, 20 Januari 2014

Keikhlasan Dalam Beramal



Bismillahirrohmanirrohim

Katakanlah: "Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku." (QS. Az-Zumar : 14)

“Dan (aku telah diperintah): "Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik. “ (QS. Yunus :105)

Keikhlasan dalam beramal adalah suatu hal yang sangat penting, karena apabila suatu amalan dikerjakan tanpa dilandasi oleh keikhlasan, akan bernilai sia-sia dia mata Allah SWT.

Ikhlas dalam beramal karena Allah ta’ala merupakan rukun paling mendasar bagi setiap amal salih. Ia merupakan pondasi yang melandasi keabsahan dan diterimanya amal di sisi Allah ta’ala, sebagaimana halnya mutaba’ah (mengikuti tuntunan) dalam melakukan amal merupakan rukun kedua untuk semua amal salih yang diterima di sisi Allah.

Amalan yang ikhlas, tapi sedikit, itulah yang bernilai dihadapan-Nya.

Amalan yang banyak tapi tidak ikhlas, tidak akan bernilai dihadapan-Nya.


Apapun hasilnya dari kerja keras kita baik itu pujian dan cemooh, jangan dihiraukan. Karena yang berhak menilainya adalah Allah SWT. Tapi bukan berarti kita cuek. Tetap senantiasa berbenah dan menerima saran atau masukan dari orang lain.

Antara Ikhlas dan Riya’ itu sanga berbeda tipis dalam pengaplikasiannya. Jadi berhati-hatilah dalam bertindak.

Ketika kita melakukan sesuat amalan, semuanya kita pasrahkan kepada Allah. Tidak perlu mengumbar-ngumbar amalan-amalan baik apa saja yang telah kita lakukan. Cukup Kita dan Allah saja yang tahu. Sebab, amalan kita tidak ada harganya, kecuali tanpa keikhlasan dari Allah SWT.

“Meninggalkan suatu ibadah karena takut dianggap ria oleh orang lain berarti di syirik.” Imam Ghazali

Allah itu Maha Baik, Dia tidak menerima (suatu amal) melainkan yang baik-baik.


“Sesungguhnya setiap amalan harus disertai dengan niat. Setiap orang hanya akan mendapatkan balasan tergantung pada niatnya. Barangsiapa yang hijrah karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena menginginkan perkara dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (hanya) mendapatkan apa yang dia inginkan.” (HR. Bukhari)

oleh @sefiindria

0 comments:

Poskan Komentar