Rabu, 10 Juli 2013

Takdir Allah

Diantara manfaat iman kepada takdir adalah bahwa kita menemukan ruang tak terbatas untuk menafsir semua kelemahan dan keterbatasan kita. Tapi, dibalik itu tetap ada harapan dan optimisme bahwa Allah selalu berkehendak baik kepada kita. Apapun peristiwa yang ditimpakan kepada kita.

Kita tidak perlu melawan kehendak Yang Maha Besar. Kita hanya perlu memahaminya, lalu belajar berdamai dengan diri kita bahwa itulah yg terbaik untuk kita. Karena itu kita berucap “Allah telah menetapkan. Semua yg Dia kehendaki pasti Dia lakukan. Yang terbaik itu apa yang ditakdirkan Allah”
Lihatlah perjalanan hidup kita. Bagaimana ia sangat dipengaruhi banyak faktor. Tapi semuanya tidak dalam kendali kita. Orang tua, suku, waktu dan tempat kelahiran, orang-orang yang sezaman dengan kita, orang-orang yang kita temui dalam perjalanan hidup, semua tidak kita tentukan. Pengaruhnya? Adalah semata karena rahmatNya ketika Ia memberi kita kesempatan untuk memilih beriman atau tidak beriman. Tapi akibat pilihan kita adalah takdirNya.

Membaca takdir Allah adalah upaya yang tak boleh berhenti untuk memahami kehendakNya. Belajarlah menitipkan kehendak kita dalam kehendakNya. Mempertemukan kehendak kita dengan kehendakNya itulah yang disebut taufiq. Pertemuan yang menciptakan harmoni kehidupan. Damai dan tenang tiada henti.
Jika terkepung dalam perang kita harus cari tempat berlindung yang lebih tinggi. Tapi Allah justru menyuruh Nabi Musa ke tepi laut saat dikejar Fir’aun? Nabi Musa mengikuti perintah itu. Dan Fir’aun makin bernafsu. Ia yakin pasti dapat mangsa yg empuk. Laut merah akan jadi saksi pembantaian. Nabi Musa pasti tampak lugu dan naif di mata Fir’aun. Tapi ini pengaturan Allah yang tidak disadari Fir’aun. Dia pikir dia hebat dan perkasa.

Saat Fir’aun tiba di tepi laut merah. Nabi Musa dan kaumnya sudah ada di seberang laut. Karena laut terbelah. Fir’aun tidak bertanya lagi kok bisa? Tak ada lagi pertanyaan dalam benak Fir’aun tentang arti laut terbelah. Apalagi kecurigaan bahwa itu akan jadi jebakan. Jadi mereka kejar mangsa penuh nafsu. Laut merah itulah yang menutup riwayat keangkuhan Fir’aun. Permulaan yang tampak naif berujung dengan tragedi yg dahsyat. Itulah pengaturan Allah.

Jika saja Fir’aun berangkat lebih pagi mengejar Nabi Musa dan kaumnya, mungkin mereka bisa menangkapnya sebelum sampai ke seberang laut. Tapi mereka telat. Tahu kenapa mereka telat? Karena pagi itu ayam berkokok setelah matahari terbit. Jadi Fir’aun dan pasukannya kesiangan. Jadwal ayam berkokok merubah sejarah.


Sumber optimisme kita dari sana, dari fakta bahwa kendali tidaklah di tangan manusia, kendali tetap di tangan Allah. Yang harus kita jaga agar takdir baik berpihak pada kita adalah konsistensi pada kebenaran. Walaupun kita akan tampak lugu dan naif. Allah yang mengendalikan alam raya ini, termasuk ilmu tentang masa depan. Jadi jangan terlalu khawatir.

-Anis Matta-

0 comments:

Poskan Komentar