Sabtu, 08 Agustus 2015

Suplemen untuk kamu, sang Penghafal Qur’an

      Jangan pernah kehilangan cita-cita…
Kita semua pernah punya mimpi.
Punya cita-cita.
Menjadi penghafal Qur'an.
Menjadi penjaga Al-Qur'an.
Menjadi Ahlul Qur'an.
Datang dengan agak malu-malu ke halaqoh karena ingin bisa. Tapi sungkan juga karena merasa belum bisa.
Ingin kayak mereka, menjadi hafizh Qur'an.
Lalu datang tiap pekan.
Membaca Al-Qur'an menjadi nikmat. Hati menjadi lapang. Dan mimpi pun mulai terjalin. Janji mulai tercipta…
Ingin menjadi penghafal Al-Qur'an. Ingin menjadi ahlul Qur'an.
Lalu waktu terus berjalan. Belajar menjadi keharusan. Jadwal rutin ditetapkan. Baca Al-Qur'an dirutinkan.
Meski kemudian mulai berlomba dengan kesibukan…
Kalau tidak bertahan, mimpi akan terkikis pelan-pelan. Lalu lama-lama pudar. Akhirnya menyerah oleh keadaan.
“Saya nggak bisa.”
“Saya nggak bakat.”
“Saya malu mau bergabung lagi…”
***
Duhai jiwa… Jangan kalah oleh semangat setan. Mereka membangun mimpi mereka di atas dendam dan kebencian. Tapi ribuan tahun mereka tetap bertahan…
Sementara kita membangun mimpi ini di atas pondasi cinta.
Cinta kepada Allah…
Cinta Rasululah…
Maka buktikanlah bahwa ia lebih kuat dan lebih kokoh…
Target akhirnya adalah surga. Perjalanannya adalah sepanjang usia. Tidak masalah belajarnya di sini atau di sana. Yang penting esensinya sama.
Yang harus kita sesali adalah ketika kita berhenti. Padahal maut adalah pasti. Dan surgaNya adalah kerinduan sejati…
Menghafal Qur'an bukan sekedar status sosial atau kegiatan pengisi waktu senggang.
Menghafal Qur'an adalah pekerjaan seorang Nabi.
Juga tugasnya Malaikat Jibril.
Menghafal Qur'an adalah tentang menjaga kalamullah. Ketika banyak orang meninggalkannya…
Menghafal Qur'an adalah meniti anak tangga setingkat demi setingkat, menuju tingkatan surga yang tertinggi. Di mana di ujungnya kita akan berkumpul bersama Rasulullah dan semua makhluk yang mulia.
Juga bertemu Dzat yang menciptakan langit bumi dan semua yang ada di antara keduanya…
Adakah pertemuan yang lebih indah selain pertemuan dengan Allah di surga tertinggi sembari membawa kalamNya di lisan dan hati kita?
***
Kelelahan adalah hal wajar dalam perjalanan. Istirahat sejenak. Lalu lanjutkan langkah.
Jangan berhenti, atau kita tidak akan sampai ke tempat tujuan…
Jangan pernah kehilangan cita-cita…
Atau hidup hanya sekadar menunggu mati…
Tetaplah semangat…
Dan senantiasa berdoa…
Semoga Allah meridhai kehidupan kita…
Abu Qawwam

#

Yusuf Mansur: Niat Jadi Hafizh Jangan Tanggung-tanggung

Seseorang pada saat hendak tidur malam Senin berniat puasa Senin. Namun saat terbangun menjelang Shubuh, ternyata dia sudah meninggal.
Apakah dia mendapatkan  pahala puasa Senin? “Dia tetap dapat pahala puasa Senin, walaupun dia tidak sempat melaksanakannya karena keburu meninggal dunia,” kata Ustadz Yusuf Mansur saat mengisi pengajian di Masjid Ar-Rahim Kompleks 165 Jakarta, pekan lalu.
Bagaimana dengan seseorang yang niat menghapal Surah Yasin yang jumlahnya 83 ayat, namun baru hapal lima ayat dia sudah keburu meninggal? “Insya Allah dia wafat dengan membawa pahala 83 ayat,” kata ustadz yang menggerakkan secara masif tahfizh Quran.
Kalau seseorang berniat menghapal 30 juz Alquran, tapi belum selesai 30 juz, ajal sudah menjemputnya, apakah dia mendapat pahala hapal 30 juz juga? “Yes! Dia berhak memperoleh pahala 30 juz, walaupun saat meninggal dunia dia baru hapal satu juz,” tutur Pimpinan Program Pembibitan Penghapal Alquran (PPPA).
Karena itulah, kata da’i kondang yang kental logat Betawinya itu, niat jadi hafizh Quran jangan tanggung-tanggung. “Mengapa cuma niat hapal Surah Yasin aja, atau Surah Al-Mulk aja, atau Surah Al-Waqiah aja? Niatkan aja sekalian jadi hafizh 30 juz,” papar Yusuf Mansur.
Yusuf Mansur lalu mengajarkan doa untuk menjadi penghapal Quran 30 juz sebagai berikut, “Saya (sebutkan nama) ingin hapal Quran 30 juz. Bantuin ya Allah, supaya kalau saya nanti menghadap-Mu di akhirat dan ditanya bekal apa yang saya bawa, saya bisa menjawab ‘bekal kalam-Mu’.”
Sumber : Republik.co.id

0 comments:

Poskan Komentar