Senin, 21 April 2014

Jadi kapan teteh birrul walidain?


"Maaf teh, ngga bisa datang.. harus birrul walidain"
Sejenak saya seringkali tertegun membaca sms seperti itu dari seorang adik yang tidak bisa hadir pekanan. Pernyataan ini selalu membuat saya bingung harus menjawab apa, karena saya berada di tengah antara setuju dan tidak setuju. Seketika juga ada sembilu. Seolah itu adalah sebagian pertanyaan, 'Mengapa teteh tidak birrul walidain?', 'Kapan teteh birrul walidain?', 'Sibuk terus, tidak pernah birrul walidain ya?'. Meski saya yakin bahwa yang meng-sms tidak pernah berniat untuk sinis. 

Saya mungkin pernah menulis betapa saya mengagumi murobbiyah-murobbiyah saya. Juga lebih jarang menuliskan tentang ibu daripada tentang mereka. Namun entah kenapa, saya justru tidak bisa bicara banyak jika harus menulis tentang ibu. Malu kepada diri sendiri. Takut. Baru ingin menulis saja sudah menetes air mata. Susah. Sulit untuk saya menulis birrul walidain, sesuatu yang tidak pernah saya lakukan dengan baik ini, tidak pernah becus. Masih jauh sekali dari kata anak soleh. Tapi yakinlah bahwa kekaguman kepada ibu tidak pernah bisa disamakan dengan siapapun, sehebat apapun, siapapun dia. Saya cuma susah untuk menuliskannya, mengatakannya. 

Saya juga tidak tau apa saya pernah birrul walidain atau tidak? Sungguh. Saya beberapa kali bertanya kepada Mama saya, "Ma, Apa linda anak durhaka, Ma?". Tapi loh ya kok saya malah dimarahi, "Suudzon..! jangan mikir yang jelek-jelek..!", katanya. Tapi saya juga tidak berani untuk bertanya, "Apa saya anak berbakti, Ma?". Takut patah hati. Yang saya lakukan, entah itu apa, hanya perilaku seadanya yang bisa saya maknai sebagai wujud terima kasih, wujud menghargai, wujud kesopanan, atau sejenisnya. 


Kalau ada yang pernah dicemburui, mungkin itu adalah waktu. Di masa lampau, betapa Mama cemburu pada waktu-waktu yang saya habiskan di luar bersama orang lain. Dimarahi juga pernah, karena tidak lazim bagi orang kebanyakan untuk keluar rumah di akhir pekan, apalagi nongkrongnya di masjid. Tetapi seiring berjalannya waktu, pada celah-celah waktu Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Ahad, ternyata ada kesempatan untuk bicara, untuk bersama, untuk bisa bertanya. Jadi saya belajar menabung kepercayaan pada celah-celah yang ada. Bukan waktu sisa, tapi juga tidak menyebabkan hal lain menjadi tersita.
Menabung Kepercayaan. Seperti filosofis menabung, meski sedikit yang penting sering. Strategi frekuentif, bukan duratif. Tidak ada yang harus dipilih antara birrul walidain atau amanah. Bagi saya, ini urusan seberapa pandai kita berstrategi untuk menabung. Semakin kita pandai menemukan celahnya, kita semakin pandai untuk menabung, dan semakin pandai juga untuk bersikap. Contohnya, jangan tunjukkan kekagumanmu kepada perempuan lain di hadapan Mama. Itu bisa membuat Mama cemburu. Juga dalam konteks menabung, kita harus pamer bahwa akhlaq kita jauh berubah lebih baik ketika kita bertarbiyah. Lebih sopan, merendahkan suara, mengingat apa yang disukainya, menyahut segera ketika dipanggil, tidak menyuruh-nyuruh, selalu berterima kasih, dan lain-lain. Dan tentunya, saya masih jauh dari baik. Menabung seadanya yang bisa saya tabung.  
Hasil dari menabung kepercayaan..? meskipun yang ditabung tidak seberapa, alhamdulillah banyak hasilnya. Diantaranya adalah : selalu diantarkannya saya untuk pergi ke majelis tahfidz, sokongan uang untuk dauroh, kado untuk teman liqo, dukungan aktivitas, ditampungnya teman-teman saya untuk mabit di rumah, makanan untuk teman-teman yang datang, teman yang curhat kepada Mama, dan masih banyak lainnya. Saya pernah ditegur karena menyediakan makanan yang kurang baik untuk peserta dauroh oleh Mama, "Masa' anak orang dikasih makannya kayak gitu?". Lalu kemudian di pagi itu, dua box container berisi bakpao diantarkan Mama ke tempat dauroh. Bukan untuk saya, untuk peserta dauroh. Hiks hiks. 
Hasil dari menabung, Mama bilang, "Nih.. ditambahi uang buat kegiatan da'wahnya..", "Ini.. infaq untuk majelis, tolong dikasihkan..". Yang paling terharu adalah.. Mama selalu menjadi yang terdepan yang membela saat ada berita-berita miring tentang aktivitas atau amanah yang saya lakukan. Contohnya adalah saat berita aliran sesat merebak, teman-teman kantor Mama bergosip membicarakan akhowat-akhowat berjilbab lebar. Tapi Mama yang membela, "Anak saya tidak kayak gitu kok!". Mama juga suka menceritakan kegiatan mentoring saya kepada teman-temannya.. Mama bilang, Mama bangga kalau anaknya suka mengajar. Dan bahkan suatu kali menyuruh saya mencarikan pengajian untuk asisten Mama di kantor. Terakhir kali Mama dan saya nonton konser Ed*oustic, Mama belikan satu tiket untuk asisten wanita nya itu pula, "Ajak aja.. biar semangat dan ke-'cas' lagi..", begitu katanya. Juga Mama yang begitu antusias memperjuangkan adanya pengajian di kantor supaya rutin. Jadi, Mama pun punya semangat da'wah fardhiah juga ternyata. 
Mama saya mungkin bukan jilbabers seperti saya, dan saya pun tidak memaksa. Tapi Mama selalu ingat manset dan jilbab rangkap saya. Saya dibelikan baju-baju yang longgar dan jilbab yang lebih lebar untuk dipakai. Sesekali Mama pun mendobel jilbabnya, minta saya ajari bagaimana cara mendobel jilbab paris supaya tidak transparan. Semua itu bukan saya yang menyuruh, Mama yang mau. 
Jadi, bisa saya katakan bahwa.. kemudahan saya beraktivitas adalah hasil sokongan orang tua, terutama Mama.. Semuanya : Izin, uang, ridho, dan semuanya. Hingga Mama pun menghimbau adik-adik saya untuk ikut tarbiyah pula.. bergaul dengan orang-orang yang mirip dengan Kak Linda.. cari teman seperti teman-teman Kak Linda.. Itu semua hasil menabung kepercayaan, meski sedikit yang penting sering. Saya tidak bisa bilang bahwa saya sudah melakukan birrul walidain.. saya cuma menabung seadanya dan selalu saya selipkan doa agar setiap langkah yang saya gerakkan ke majelis ilmu, setiap keringat yang menetes di jalan da'wah, semuanya ada bagian besar pahala milik orang tua di dalamnya.. karena semua yang saya lakukan atas ridhonya. Jadi kadang saya suka menangis karena ingat betapa sedikitnya saya menabung, tapi betapa banyak yang saya dapat. Ah, maaf Mama..
Selalu yakin bahwa..
Tarbiyah kita mengajarkan kita untuk bisa menyeimbangkan semuanya.. jika ada dua hal yang saling meniadakan, pastilah itu bukan kebaikan. Kebaikan yang satu dan kebaikan lainnya seperti daun dan kelopak, tangkainya adalah ridho Allah. Kita hanya bisa mendapat bunga yang sempurna jika semua bagiannya ada. Semuanya mungkin, selama Allah ridho.. 
Jadi, menjawab pertanyaan :
'Mengapa teteh tidak birrul walidain?',
'Kapan teteh birrul walidain?',
'Sibuk terus, tidak pernah birrul walidain ya?'
Mudah-mudahan Mama bisa bantu saya menjawab pertanyaannya.. takut salah jawab.
He he. 
Allohualam

0 comments:

Poskan Komentar