Kamis, 15 November 2012

Ketika Allah mempertemukan kita kembali



Aku mengenalnya sudah cukup lama, sekitar 3 tahun yang lalu. Tepatya saat kelas satu SMA. Namanya Fara. Kita pertama kali saling mengenal ketika kami satu organisasi disekolah. Organisasi Paskibra yang begitu kami cintai. Dimana kita semua diajari kedisiplinan, ketegasan dan kepemimpinan,ditempa kawah candra dimuka,bahasa kerenya. Namun, setelah menjalani selama satu tahun, kami termasuk yang bertahan disana. Seleksi alam itu memang biasa, hanya orang-orang yang berkomitmen dan sungguh-sungguh yang akan bertahan. Hingga akhirnya kamipun disatukan kembali. Kami satu kelas, bahkan duduk sebangku. Subhanallah, mungki ini takdir dari Allah untuk mempersatukan kami agar lebih dekat. Seiring dengan berjalannya waktu, kami pun mulai mengenal lebih dalam dari masing-masing karakter atau perilaku masing-masing dan mencoba saling memahami.Tak terasa kedekatan kami begitu dalam, hingga timbullah rasa mencintai dan menyayangi. Merasa kesepian jika ia tidak masuk sekolah. Seolah-olah hampa dan tidak bisa berbagi cerita. Sebab, hampir setiap hari, kami selalu cerita. Baik itu cerita dirumah,organisasi bahkan orang yang dulu ku kagumi. Ups..

Bulan April 2011, saat itu kami sedang bimbang atau galau kata anak zaman sekarang.  Mungkin rasa itu akan selalu dirasakan oleh sebagian besar anak-anak SMA yang bingung dalam memilih Perguruan Tinggi Negeri. Ketika itu Fara ingin masuk IPB sedangkan aku bimbang, sebab aku tidak diperbolehkan Ibu untuk kuliah di luar Kota. Aku memahami begitulah perasaan seorang Ibu, apalagi aku adalah anak perempuan satu-satunya. Ibu belum rela dan takut kesepian sepertinya.


Ketika itu, ada kakak-kakak dari Institut Pertanian Bogor datang ke sekolah kami untuk sosialisasi dan menawarkan kegiatan Try Out IPB. Dalam acara itu, kita juga bisa mengetahui lebih jauh bagaimana kehidupan kampus di IPB. Hingga di akhir acara, kami meminjam Almamater kakak kelas yang ada disana untuk berfoto di depan Lambang IPB. Ketika sampai dirumah, aku mencoba melihat foto itu lagi. Fara ingin masuk IPB.

Kesokan harinya,muncullah perasaan ingin kuliah disana, bersama Fara. Setelah aku ta’aruf lebih dalam dan melakukan solat Istikharah akhirnya akupun memilih IPB sebagai pilihan pertama dalam SNMPTN Undangan atau Jalur masuk tanpa tes. Jalur ini  hanya berdasarkan nilai-nilai rapor. Alhamdulillah, Aku dan Fara mendapatkan kesempatan itu dan pilihan perguruan tinggi kami pun sama. Namun, ketika akhirnya Allah berkehendak lain. Aku diterima di IPB lewat jalur itu, Fara tidak. Merasa sedih karena Fara tidak diterima. Sebagai seorang sahabat, aku harus bisa menguatkan dan terus memotivasinya. Aku terus berdoa agar Allah bisa mempersatukan kami kembali.

Rencana Allah begitu indah dari pada rencana hamba-Nya. Fara akhirnya lolos ujian SNMPTN tertulis di IPB. Akhirnya kita pun dipertemukan kembali. Walaupun di jurusan yang berbeda tapi kami sering dipertemukan di Organisasi Mahasiswa Daerah Lampung. Suatu organisasi yang anggotanya berasal dari Lampung. Suatu kebahagian hati yang begitu besar. Memang terkadang bila hati ini telah terpaut dengan sesorang,cukup sulit untuk melepaskannya. Apalagi, seseorang yang biasanya selalu ada disamping kita.

Oktober 2012, Ketika itu Bogo diberikan rahmat oleh-Nya, lewat hujannya yang begitu deras, menyejukkan hati ini dan membuat udara semakin segar. Tiba-tiba, aku dikejutkan dengan sebuah pesan dari temanku sewaktu SMA dulu. Pesan yang berisi bahwa ayah dari seorang sahabatku yang bernama Fara itu meninggal dunia. Setelah ku baca hingga akhir air mata ini tiba-tiba saja mengalir. Tanyaku dalam hati,
Ya Allah….apakah ini benar ? secepat inikah ?
Ya Allah….Kuatkanlah ia dan keluarganya dalam menerima semua ini.

Aku merasa lebih sedih lagi, mengapa aku tidak tau tentang hal ini. Aku sempat tau dulu sebelum keberangkatan kami ke IPB untuk menempuh kuliah lagi setelah libur Idul Fitri, aku tau dari teman SMA juga bahwa ayahnya sakit, namun aku tidak tau beliau sakit apa dan ku kira hanya biasa saja. Namun beliau ternyata menderita penyakit gagal ginjal. Terngingang dalam kepala ini, teringat ayah dirumah. Ayah…Ayah…apa kau baik-baik saja. Aku takut bila itu terjadi padaku juga. Walaupun aku tahu memang pada hakikatnya semua milkiNya akan kembali pada Sang Pemiliknya yaitu Allah swt. Namun, aku tak sanggup bila itu terjadi pada kami anak-anaknya yang masih kecil-kecil dan belum bisa membalas semua jasanya.

“Maafkan aku Fara, memang ku akui. Akhir-akhir ini aku sangat jarang untuk berkirim pesan denganmu. Aku begitu disibukkan dengan perihal organisasi,sampai-sampai aku lupa walau hanya menanyakan kabar tentagmu. Maafkan Aku Ya Allah”, pintaku.

Setelah menerima sms itu, langsung ku telpon Fara, ternyata dia sudah perjalanan pulang bersama kakak sepupunya. Air mata ini terus mengalir, aku tidak tahan untuk menahannya. Aku menyadari  kita memanglah bukan saudara kandung atau saudara dekat, tapi bukankah kita adalah saudara semuslim.
“Sesama muslim itu itu bagaikan satu tubuh, bila ada salah satu yang sakit maka sakitlah semuanya” (HR. Bukhari Muslim )
Inilah yang dinamakan ukhuwah. Ukhuwah yang begitu indah. Ukhuwah yang menuntut rasa sakit, dimana ketika saudaranya sakit, kita pun merasakannya. Manisnya Imanlah yang membentuk ukhuwah ini.

Setelah aku merenungi apa yang telah aku lakukan selama ini. Aku mulai mencoba untuk berubah dan melakukan yang terbaik untuknya. Aku ingin menjadi sahabat yang selalu ada disampingnya. Apalagi, ia sekarang telah ditinggal oleh ayahnya. Aku yakin, inilah salah satu rencana Allah mempertemukan kami kembali dikampus ini. Agar Aku  bisa menjaganya dan berbagi cerita baik suka maupun duka. Layaknya seorang sahabat, yang selalu ada setiap saat. Aku mencintai dan menyayanginya karena Allah. Jaga ia dan keluarganya Ya Allah. Aamiin J

@sefiindria

0 comments:

Poskan Komentar