Minggu, 31 Januari 2016

Pertanyaan Itu ^_^

Januari 31, 2016 0 Comments

Bismillah....

"Hampir disetiap bulannya. Dari hasil apa  yg telah ku usahakan. Aku sisihkan special untuk 'merehabilitasi' tubuh yang terkadang tak sepaham dengan apa yang diinginkan."

Hari ini merupakan kali ku yang ke 5. Tapi, entah kenapa sangat tepat 'ujiaan sakit' itu datang ketika aku berada dikosan yg lama - di Dramaga. Tapi, bisa ku jawab itu semua karena di dramaga aku memiliki sahabat2 yg sangat perhatian padaku. 4 tahun aku hidup disini. Jaringan pun banyak. Insya Allah. Sangat berbeda, ketika aku berada di tempat yg baru, tempat yg ku tinggali saat pulang kerja. Jaringan disana masih sangat sedikit.

Hari ini juga, adalah kali ke 5 ku membuat ayah dan ibu sangat khawatir kepadaku. Ya Rabb, ampunilah aku. Aku yang terkadang lupa apa yang dipesankan ibuku, aku yg lupa apa yg dipesankan oleh ayah, dan teman2 terdekatku. Terutama urusan yang satu ini :: kesehatanku.

Aku yang biasanya sangat pantang bahkan jarang untuk sakit. Kini, sangat rentan. Entahlah...aku pun tak paham, kenapa. Entah karena penyesuaian lingkungan, rutinitas atau beban pikiran (stress). Tapi, aku memang sadar dan rasanya berbeda. Aku kalau dikampus, yang biasanya pergi pagi pulang jam 9 malam. Setelah itu, masih bisa melakukan apa-apa. Tapi, ketika sudah kerja seperti saat ini - selepas pulang kantor, biasanya beberes dulu kemudian langsung tidur. Tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Apalagi untuk sekedar menyalurkan hobiku. Inilah yang dinamakan bekerja. Tak hanya menguras pikiran, tapi juga jiwa dan hati :D #lebay tapi emang bener sih.

Aku yang kini sangat rentan untuk sakit. Membuat salah satu temanku mengatakan :
"Ya udah, disegerakan* sana biar ada yang jagain dan ngerawat kalau sakit."

"Haha....ga sebegitunya juga kali. Justru ketika sudah begitu, bukankah tanggung jawab itu akan semakin bertambah ?" jawabku

Dan aku semakin paham dan sadar. Entah itu Ayah, ibu atau aku dengar dari teman2 ku yang memiliki pacar. Sering sekali ditanyakan :

"Lagi apa ? Udah makan belum ?."

Awalnya aku merasa bosan jika hal itu terus yang ditanyakan. Setiap message atau BBM yg masuk. Pertanyaan itu terus.

Dan tidak beruntungnya aku. Selalu tepat saja waktunya. Entah itu ayah atau ibu. Dengan pertanyaan "Lagi apa ? "

Sms atau nelpon dikala aku sedang berpergian dengan teman2ku. Ah, aku selalu zonk. Ibu Ayah selalu tau aja.

Ya, itulah maksudnya. Ayah Ibu atau orang2 yang kita peduli dengan kita. Ingin memastikan saja bahwa apa yang sedang kamu lakukan itu BAIK.

Pertanyaan selanjutnya. "Udah makan belum ? Jujur, aku rada risih dan rasanya gimana gitu kalau ditanyain udah makan atau belum. Rasanya manja banget gitu.
Tapi ternyata, pertanyaan ini adalah salah 2 yg penting setiap kali di sms/ditelpon oleh siapapun itu.

Maksudnya sama saja seperti pertanyaan pertama. Ingin memastikan kalau disana kamu sehat-sehat saja, makannya baik dan yang paling penting kamu ga lupa untuk makan. Ah, itu kan memang kebiasaan kebanyakan orang, khususnya kamu Sef yang terkadang sering lupa Hehe #piss

Baiklah. Aku sudah paham dan sadar sekarang, apa maksud dari pertanyaan2 itu. Janji, ga akan pernah bosan lagi. Iya dong, harus itu....demi kesehatan dan kebaikan kamu juga.

Maaf sudah membuatmu khawatir disana.

Aku yang selalu ingin sehat.
Doakan yah ;))

31.01.2016
Semangat Senin tuk esok hari.

Sabtu, 23 Januari 2016

Ada bagianmu. Ada bagian-Nya

Januari 23, 2016 0 Comments
Kita tak pernah sekalipun jauh dari pasangan jiwa. Di manapun kapanpun, kita sejatinya begitu dekat dengan mereka. Kenal atau belum kenal. Saling tahu atau belum saling tahu.Kita, sejatinya hanya sedang menipu jarak.
Sejauh yang kami pahami, Islam tidak mengenal sense of material belonging atau rasa memiliki. Islam mendidik umatnya untuk memiliki sense to be entrusted, rasa diamanahi. Menurut kami, konsep itu pula yang berlaku untuk karunia rasa. Bahwa ia tercipta sebagai amanah, bahwa ia hadir sebagai ujian sekaligus anugerah.

Saat sedang menipu jarak, sungguh seharusnya kita berbahagia. Kita tidak sedang menyangkal sepi atau menanti batas sunyi. Terpujilah penemu prinsip probabilitas, bahwa alih-alih beradu pilu, kita justru sedang diberi kesempatan mengekskalasi peluang untuk saling menemukan. Sungguh, urusan menipu jarak ini hanya seperti sajak yang menunggak.

Ada bagianmu. Ada bagian-Nya. Kerjakan bagianmu dan tak perlu risau akan bagian-Nya.
Ada begitu banyak cara bagi Allah untuk mempersatukan dua hati manusia. Ia tak terbatas pada interaksi tahunan, perjumpaan, maupun percakapan. Bersatunya dua hati bahkan bisa terjadi pada mereka yang tak pernah saling bersua. Maka sungguh, sedikitpun kita tak perlu khawatir, selain atas apa yang memang seharusnya kita jaga.

Ada bagianmu. Ada bagian-Nya. Kerjakan bagianmu dan tak perlu risau akan bagian-Nya.
Harus kami akui, kami memang belum mengenal sepenuhnya satu sama lain. Tapi kami percaya, InsyaAllah Ia yang akan menguatkan cinta dan menumbuhkan barakah di antara kami, selama kami saling menjaga menuju-Nya.

Ada bagianmu. Ada bagian-Nya. Kerjakan bagianmu dan tak perlu risau akan bagian-Nya.
Kami percaya, sebenar-benarnya cinta antara dua manusia itu sepatutnya menjaga kemuliaan melalui jalan keselamatan. Maka menurut kami, menikahi pasangan jiwa dengan keimanan adalah cara terbaik dalam memuliakannya. Meletakkan rasa itu dalam iman adalah cara terbaik dalam menjaganya. Agar setiap jalan menujunya adalah kebaikan. Agar setiap langkah membersamainya adalah keberkahan.

Ada bagianmu. Ada bagian-Nya. Kerjakan bagianmu dan tak perlu risau akan bagian-Nya.
Rasa cinta, kecenderungan, atau apapun namanya tentu saja hal yang wajar. Tapi sungguh, sebesar apapun rasa yang datang, ia tercipta sebagai amanah, ujian, anugerah. Hingga menjaganya agar sesuai kadar dan fitrahnya adalah sebuah keharusan.

Tidak manusiawi? Bukankah justru perkara ini adalah salah satu hal yang paling manusiawi dari seorang manusia? Bahwa manusia-yang-paling-manusiawi adalah manusia yang mampu menjaga hati dan kehormatan diri sebagai salah satu prioritasnya.

Ada bagianmu. Ada bagian-Nya. Kerjakan bagianmu dan tak perlu risau akan bagian-Nya.
Walau terdapat berjuta cara untuk hidup, ‘perjuangan’ adalah kosa kata yang hanya pantas disandingkan untuk cara hidup yang lurus. Maka menjaga diri bukanlah sebuah pengorbanan. Ia lebih pantas disebut sebagai suatu kehormatan.

Ada bagianmu. Ada bagian-Nya. Kerjakan bagianmu dan tak perlu risau akan bagian-Nya.
Semoga kita dapat “membiarkan” Ia menjalankan bagian-Nya. “Membiarkan” ia bertindak sebagaimana Tuhan kita seharusnya. Hingga saat itu tiba,
tetaplah terjaga.

Ada bagianmu. Ada bagian-Nya. Kerjakan bagianmu dan tak perlu risau akan bagian-Nya.
Pada suatu masa, kami adalah dua orang yang asing. Pada suatu masa yang lain, kami mulai mencari tahu tentang diri kami masing-masing. “Siapa kamu, siapa aku. Bagaimana kamu, bagaimana aku”. Dalam diam dan istikharah. Dalam malam panjang penuh kemantapan. Hingga terus Memantaskan diri. Ia menjadikan kami Dua ketidaksempurnaan yang saling menyempurnakan.

END

Be a Gentleman, Get Married and No Couple Until AKAD

Januari 23, 2016 0 Comments
Laki-laki, janganlah tebar pesona, menebar janji, mengikat yang belum pasti. Jika memang telah siap, datangi orangtuanya. Jangan memberi harapan kepada wanita yang bukan mahrammu. Sungguh, wanita itu lemah. 

Jika belum mampu, bersabarlah hingga tiba saatnya engkau telah merasa mampu dan siap untuk mengucapkan perjanjian yang kuat dan suci itu. Jangan "membooking" dia dengan komunikasimu dengannya, melalui inbox atau chating yang kau bina dengannya.

Sungguh, interaksi yang kau lakukan dengan wanita yang bukan mahrammu adalah hubungan yang terlarang.
Engkau yang begitu semangat menggembor-gemborkan haramnya pacaran, tetapi engkau sendiri yang malah terjebak dalam apa yang engkau kau yakini haram itu. 

Iya, aku tahu engkau tidak jalan berdua dengannya, tidak pegangan tangan, atau seabrek aktivitas lainnya. Tapi engkau tetap berkomunikasi dan berchating ria dengannya kan? bercanda ria, membicarakan hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Saling curhat dan membicarakan masalah yang tidak pantas untuk kau ungkapkan pada yang bukan mahrammu.

Aku tahu, sebenarnya kau telah mengetahui bahwa hubungan yang kau jalin adalah terlarang, tapi dari hatimu masih terdapat bisikan, bahwa kau tak bisa berhenti untuk berkomunikasi dengannya. Sebenarnya kau bisa. Sangat bisa untuk berhenti dari inbox atau chating ria dengannya.

Kenapa? Kau sudah terlanjur menyimpan rasa padanya?
Kau takut dia diambil atau bersama yang lain atau memilih orang lain? Lantas kau "membooking"nya dengan terus-terusan menjalin komunikasi dan berduaan dengannya di dunia maya?
Engkau chating-an dengannya, engkau mengikat hatinya, agar dia tak lari ke lain hati?
Engkau egois. Kau biarkan dia dalam pengharapan yang panjang tak berujung. Penantian yang tak pasti.
Kau katakan akan menjemputnya 2 atau 3 tahun lagi, setelah lulus kuliah, dapat kerja tetap, setelah ini, itu, de el el...
Tak terfikirkah engkau tentang perasaan wanita yang kau beri harapan itu? Dia mengharap padamu yang tak berani memberi kejelasan.

Wanita, jadilah wanita cerdas. Jangan mau di PHP sama laki-laki yang suka tebar janji. Memangnya kamu tahu apa yang akan terjadi ke depannya?
Kau menunggu, menunggu dengan penuh harap. Menanti yang tak pasti... Kau tolak laki-laki sholeh lain yang datang ke rumahmu demi menunggu dia yang telah menjanjikan yang tak pasti?
Kau bersedia hatimu diikat dengan ikatan lemah yang tak jelas.
Hari-harimu penuh harap dan penantian pada sosok yang tak berani memilih dengan tegas: berhenti dari komunikasi yang terlarang atau mendatangi walimu.
Bagaimana mungkin kau bertahan untuk terus berharap pada laki-laki yang bimbang tak berani memutuskan pilihannya dengan tegas?
Wahai wanita, cerdaslah !!

Jagalah 'iffah dan 'izzahmu...
Janganlah mengikuti ajakannya untuk berduaan di dunia maya dengan berchating ria.
Sungguh, setan adalah yang ketiga diantara wanita dan laki-laki bukan mahram yang berduaan. Setan akan berusaha bagaimanapun caranya untuk membisikkan manusia agar bermaksiat kepada Allah Subhanahu wata'ala.
Laki-laki, jika kau menyukai seorang wanita, dan kau yakini akan kebaikan dan keshalehahannya, segera temui walinya. Karena wanita shalehah itu sulit ditemukan di zaman yang penuh fitnah ini.

Tapi jika kau belum siap untuk membina ikatan suci itu, bersabarlah.. Siapkan dirimu.. Jangan kau meracuni dan merusak hatimu dengan komunikasi terlarang dengannya. Jadilah laki-laki yang tegas yang tak mudah umbar janji tak pasti. 

Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depannya.
Wanita, jika ada laki-laki shaleh yang datang pada walimu dan kau menyukainya, terimalah ia. Karena laki-laki shaleh itu sulit ditemukan di zaman yang penuh fitnah ini.
Janganlah mau diajak menjalin hubungan terlarang meskipun kau menganggapnya kecil, hanya berchating ria dengannya, tetap terlarang.

Laki-laki yang baik itu tidak akan mau menebar janji yang tak pasti.
dan wanita yang baik itu tidak akan mau dijanjikan harapan tak pasti.
Jika sudah terlanjur menjalin komunikasi?
Berhentilah. Pasti bisa. Tergantung dari seberapa kuat niat kita untuk mentaati perintah dan tidak bermaksiat kepada Allah.

Tenanglah, yakinlah...
Bahwa jika memang berjodoh, pasti bertemu...
Bukankah pasanganmu telah Allah tetapkan?
Tugas kita adalah terus memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas iman.
Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, dan jodohmu, adalah cerminan dirimu.
Jangan mau terjebak dalam hasutan setan karena takut tak berjodoh dengannya.
Jika dia memang jodoh yang Allah tetapkan bersamamu, di ujung pulau pun tetap akan bertemu.
Tapi jika dia bukan jodohmu, meski dia ada di sebelah rumahmu, seberapa sering pun kau menjalin komunikasi dengannya, tetap tidak akan bersatu.

Jodoh itu penuh rahasia.
Maka jemputlah ia dengan jalan berkah.
Bagaimana mungkin akan berkah, jika prosesnya tak berkah?
Be a Gentleman, Get Married and No Couple Until AKAD
Wallahu a'lam bish shawab

#BeAGentleman
#GetMarried
#NoCoupleUntilAKAD

[repost]

Tammara Project

Januari 23, 2016 0 Comments
Bismillah....

28 Agustus 2015. Adalah waktu yang telah Allah takdirkan untuk ia yang baru saja menyelesaikan program sarjananya. Alhamdulillah, atas izin dan karunia-Nya, ia bisa lulus tepat waktu. 

2 September 2015. Tepatnya sekitar satu minggu yang lalu, semua berkas untuk persiapan graduationnya selesai. Hari ini juga merupakan hari pertamanya bertemu dengan Tim 'Tammara Project' - sebutan tim Project Asisten Ibu Tammara. Sedikit penjelasan mengenai 'Tammara Project' ini yaitu sebuah project penelitian dari Ibu Tammara yang sedang menyelesaikan gelar Ph.D nya di Canada. Disini kami ber empat, membantu beliau dalam mencari sampel penelitian. Kami diberi waktu selama satu bulan untuk mencari responden kurang lebih 300 responden. Mulai dari responden yang berpenghasilan low, middle dan high. Semuanya dengan persentase yang sama 100 responden setiap tingkatan. Ibu dengan 3 anak yang masih lucu-lucu ini, semangatnya luar biasa. Masya Allah. Super mom. Dan hari itu juga, setelah menandatangani kontrak kerja dan membaca rule penelitian ini, kami resmi menjadi asisten beliau, kami menyebutnya, 'project 5 juta'. Ha. 

Adapun kisah, ia sampai mendapatkan project asisten ini. Dari share seorang temen disalah satu grup Line nya. Awalnya keraguan itu muncul. Tapi setelah berpikir mendalam dan untuk mengisi luang sambil menunggu wisuda. Ia pun mengirimkan CV nya ke alamat email ibu Tammara. Dengan meminta restu ke dua orang tuanya yang nan jauh disana. Masya Allah, setelah satu hari di wawancara langsung
via telepon dan dengan menjabarkan keahliannya dalam analisis data menggunakan SPSS. Ia diterima untuk bergabung dalam tim 'Tammara Project'. Segala Puji Bagi-Mu, ya Rabb. 

"Aku adalah sesuai prasangka hamba-Ku." 

Begitu yang dijelaskan dalam kitab suciku, Al Qur'an yaitu mengajarkan ia untuk tetap berprasangka baik dan hanya kepada-Nya lah ia memohon pertolongan. 

Satu minggu berlalu menjalani project ini, Alhamdulillah berjalan sesuai dengan target. Disini ia bukan mau menceritakan bagaiamana, mengapa, siapa dan kapan 
dalam menyelesaikan project ini. Melainkan, apa yang bisa ia ambil hikmah atau pembelajaran yang bisa dipetik selama menjalani project ini. Sebuah aktivitas yang mengajarkan ia tentang Kesabaran. Rasa Pantang Menyerah. Berani. Rendah Hati. Dan yang paling penting yaitu ilmu tentang ikhlas dan rasa syukur. 

Hal yang paling menonjol disini adalah 

Perbedaan.

Yeah. That's the point !

Perbedaan 'sikap' antara ke tiga tingkatan Income. Low, Middle, High. 

Tapi dari perbedaan ini, bukan maksud untuk membeda-bedakannya. Melainkan, bagaimana dari banyaknya perbedaan ini bisa membuat satu dengan yang lainnya saling berkorelasi dan mengambil pelajaran. 

Misal. Sikap rendah hati seorang Low, bisa terus dilestarikan di dalam diri seorang High. Tegur sapa dan saling mengenal kepada sesamanya. Minimal antar tetangga sebelah rumah kiri-kanan-depan. Sikap rasa syukurnya seorang Low dalam mengelola makanan. Sikap ramahnya kepada sesama. Di lain sisi, kita juga bisa melihat sikap seorang High dalam memanfaatkan waktunya. Time is money. Sikap seorang High yang terus bersemangat dalam menuntut ilmu. Sikap seorang high yang jika berinfaq sangat besar sebab memang ia orang 'berpunya'. Dan kemudian Middle, bisa dibilang cukup bagus bisa berada di posisi ini. Sebab, ia yang berada ditingkatan ini asumsinya adalah 'seimbang'.

Hm, namun pada kodratnya. Allah tak melihat seberapa besar dan banyak harta yang dimiliki, semua dimata Allah adalah sama. Yang membedakan hanyalah derajat Ketaqwaannya. Nah, apapun kamu, posisi kamu, harta kamu, pekerjaan kamu. Jadikan ia sebagai ladang kebaikanmu dimanapun, kapanpun dan bagaimanapun kondisinya. Okeh !!

Finally.
Kalau boleh mengambil kesimpulan dan bisa juga kali yah kalau diuji juga dengan analisa regresi. Bahwa hipotesa 'Pendidikan yang tinggi akan mempengaruhi Income seseorang, begitupun dengan tingkat pemahamannya dalam menjalani segala urusan kehidupan'. Berbanding lurus keduanya. Cateris Paribus. 

Dalam Arkanul Bai'at. Ternyata benar, bahwasanya hal yang mendasar seseorang melakukan 'suatu hal' adalah tingkat pemahamannya. Al Fahmu. Nomor satu dalam urutan Arkanul Bai'at. 

Tingkatan pemahaman seseorang akan mempengaruhi segala aktivitas yang ia lakukan. Mulai dari urusan A-Z, bangun tidur sampai tidur lagi, mengasuh anak dari kecil sampai dewasa, dan lain sebagainya. Banyak. Sangat banyak. Ya, tergantung apa dan bagimana tingkatan pemahaman atau ilmu yang ia miliki. Masya Allah. Evaluasi diri masing-masing aja yah. 

Pada dasarnya, pemahaman yang baik akan menghasilkan amal yang baik. 

Yuk terus bersemangat 'memperkaya' diri. Memahami apa apa yang perlu dipahami. Terutama dalam mengelola hati. #eh

Oktober 2015

*sudah sempat menulis lagi. 

Working Mom & Ibu Rumah Tangga

Januari 23, 2016 0 Comments
 #1
Yuhuu, tema baby tercurhat pekan ini masih klasik sih, belum ngedangdut. Kyaa kayak musik aja. Uehehe. Tema apakah itu? Iyups, tentang working mom. Etapinya nyantai aja, aku mau coba ngeliatnya dari sisi lain gitu sih, bukan sisi yang sensitipnya.Tsaah.

Jadi pernah ya, aku dicurhatin salah seorang working mom tentang betapa 'feeling guilty' pake bangetnya beliau karena tiap hari harus ninggalin anaknya ke kantor. Setiap hari baby-nya sama ncuss alias babysitternya. Tenang, ceritanya nggak akan sehorror anaknya dibawa ncuss-nya buat ngemis atau anaknya dipukulin gitu kok. Kali ini aku mau cerita yang lebih dewasa dikit. Tsaah. Tolong yang belum cukup umur diamankan dulu. Uehehe. *ngamanin diri sendiri*

Balik lagi ke working mom tadi, ceritanya doi nggak khusyuk kerjanya, dikit-dikit keingetan baby-nya terus, mau resign tapinya ya gimana? Sayang karir yang sudah dibangunnya bertahun-tahun, mana bentar lagi naik posisi gitu, udah mah takut bosyen kalau cuma di rumah aja ngurusin anak. Terdilema abis pokoknya mah.
Terus, apakah si ibu tetap bertahan jadi working mom, atau resign jadi ibu rumah tangga? Kita nantikan cerita selanjutnya.
***
Hmmm, lagi-lagi harus aku katakan, menjadi ibu itu bukan perkara jadi working mom (WM) atau ibu rumahtangga (IRT) gitu. Peran ibu terlalu mulia untuk dikotak-kotakin antara working mom atau IRT. Toh, mau jadi WM atau IRT pun akan selalu ada orang yang nyinyir kita begini atau begitu, akan selalu ada orang yang membanding-bandingkan. Yakan, yakan?
Jadinya, aku cuma pengen bilang;

Cukup, sudah, hentikan, jangan lagi merasa bersalah, para WM di seluruh dunia. Enjoy your life, always dudebes di rumah ataupun di kantor. Bukan hanya karena WM atau IRT itu sama-sama baiknya jika dijalani dengan baik pula, tapi karena anak-anak harus dibesarkan oleh ibu yang bahagia menjalankan perannya. Seberapa banyakpun peran yang harus dijalaninya. Karena anak-anak harus dididik oleh ibu yang bangga dengan pilihan hidupnya. Agar kebahagiaan dan kebanggaan itu juga dirasakan oleh anak-anak. Bangga, atas siapapun ibu yang mereka punya. Apa dan bagaimanapun itu. Bahagia, atas segala hal yang sudah diberikan dan dilakukan oleh ibunya. Kita hanya bisa memberi apa yang kita punya kan? Jadi kalau pengen anak-anaknya bahagia dan bangga, ya seorang ibu harus punya itu duluan. Apapun pilihan hidup yang sedang dijalani. Tsaah.
***
Ibu yang tadi aku ceritain masih terdilema, mungkin butuh waktu untuk mempertimbangkan dan memutuskan. Aku cuma bisa berdoa yang terbaik buat beliau juga seluruh ibu di seluruh dunia. Agar tetep menjalankan semuanya dengan hepi, cause happy mom creates a happy child. Haish, jadi inget ummi. Baiklah sebelum kemenyean ini kian menjadi, aku tutup aja edisi tercurhat kali ini dengan quote keceh berikut inih,
Don't lose yourself in your identity as a mother. You were a woman before you met your husband. You were a woman before you had your children. Don't lose sight of who that person is. Spend as much time with your children as you can, but don't feel bad if you're spending time at work. Enjoy that time that you spend contributing to society. When you're at home, be present with your child. It's quality over quantity, always. [Erica Rivinoja]

#2
Baiklah, aku mau dikit share tentang 'Working Mom' dan Ibu Rumah Tangga ya. Kebetulan aku pernah nguping pembicaraan abi dan ummi perihal ini. Aku simpulkan aja deh biar enggak pake ribet.
» Kemulian seorang ibu nggak pernah ditentuin dari apakah ibu tersebut 'working mom' atau 'ibu rumah tangga'. Aku ulangi biar lebih dramatis ya; ENGGAK PERNAH. Jadi kalau ada yang membandingkan 'kekecean' seorang ibu hanya dari ibu rumah tangga apa bukan, kerja apa enggak; totally wrong. Kemuliaan seorang ibu ada pada peran dan tanggungjawabnya dan seberapa besar pengorbanannya untuk menjalankan peran dan tanggungjawab itu. Dan baik 'working mom' atau 'ibu rumah tangga' punya nilai pengorbanan masing-masing yang nggak bisa langsung disamaratakan gitu, karena kondisi setiap ibu ituh beda. Makanya itu bukan sesuatu yang adil untuk dibanding-bandingkan. Can I get a 'tsaaaah' here? Uehehe

» Ada masa-masa dimana seorang 'working-mom' pengen banget jadi ibu rumah tangga, mengurus rumah dan keluarga, bermain dengan anak-anak gitu. It's okeh kok. Kodratnya emang begitu. Ada banyak kodrat perempuan yang emang adanya di rumah, bukan di kantor. Tapi ya gimana, tuntutan keluarga dan profesionalitas mungkin masih mengharuskan buat kerja. Selama bisa dijalani dengan baik dan nyaman, ya dijalani aja. Hebat banget jadinya, bisa menjalankan peran ibu sekaligus peran di kantor dengan sangat baik. Tapi kalau galau hanya karena masalah penghasilan, kerja hanya buat nambah penghasilan suami aja, tanpa bisa menikmati pekerjaannya di kantor, perasaannya kangen rumah melulu? Hmmmm, gimana ya? Terdilema emang kalau udah gitu mah. Aku kutip jawaban abi aja ya, waktu ummi juga galau mau tetep kerja apa jadi ibu rumahtangga. Khawatir penghasilan keluargaku jadi berkurang gitu, padahal dari lubuk hati yang paling dalam, ummi pengen banget fokus ngurusin akuh. Huhuhu. 

Kata abi waktu itu;
"Yang namanya rezeki kan sudah diatur, seberapa banyaknya, besar kecilnya, melalui siapanya. Kalau ummi pengen fokus ngurusin keluarga di rumah, ya gpp. Abi malah seneng. Semoga ketulusan dan pengorbanan ummi dibalas dengan rezeki yang lebih baik lagi buat keluarga kita. Kalaupun bukan jumlahnya, setidaknya kualitasnya; bisa jauh lebih berkah. Kan yang buat cukup berkahnya, bukan jumlahnya."

» Ada masa-masa dimana seorang ibu rumah tangga juga pengen kerja gitu. Jenuh dengan tugas-tugas seharian di rumah. Ini juga maklum sih ya. Secara tiap orang butuh aktualisasi diri. Dan kadang rumah emang nggak cukup untuk melampiaskan aktualisasi diri kaum hawa. Jadinya ibu rumahtangga itu emang peran yang membutuhkan kreativitas tingkat dewa. Biar nggak bosen di rumah, biar always perform dan bahagia gitu ngurusin rumah dan penghuninya. Tapi menurutku, yang apalah aku ini; sebelum menjalani keseharian selaku IRT ya harus dilurusin dulu pikiran dan hatinya. Ibu rumahtangga itu, kalau dijalani dengan baik, adalah pekerjaan paling mulia yang pernah ada loh. Bayangpun, dari bangun tidur sampai tidur lagi ngurusin orang lain. Menciptkan keluarga sakinah, mawadah, warohmah gitu. Mendidik anak-anak jadi generasi terbaik. Itu kan uwow banget. Subhanalloh.

Jadi, IRT itu pikiran dan hatinya nggak boleh sempit. Harus luas dan lapang. Jangan hanya mikirin yang teknis-teknis ajah, semisal masak, nyuci, nyetrika, bersih2, dll. Harus jadi IRT yang strategis juga yang concern sama tumbuh kembang dan masa depan kluarga. Lagian, kalau dalam islam kan, hal-hal teknis yang aku sebutin tadi itu adalah paket 'nafkah' (sandang, pangan, papan) yang udah jadi tanggungjawab suami gitu. Etika terbaiknya kan emang suami ga hanya kasih uang buat beli beras atau pakaian aja. Tapi juga sampai makanan terhidang di meja makan, pakaian siap diapakai dengan rapih. Itu artinyah, sebenernya asisten rumah tangga (ART) juga masuk haknya isteri, tanggungjawab suami.

Tapi isteri yang baik dan solehah, juga akan sepenuh hati melayani suami dan keluarganya dengan pelayanan terbaik, semisal makan dari masakan sendiri, menyediakan pakaian, dll. Karena ada keutamaan dan berkah sendiri dsana.

Terus gimana dong menyikapinya? Kyaaa, islam kan ngajarin lomba balap karung gitu. Eh, berlomba-lomba dalam kebaikan deh. Jadi ya, silahkan aja, suami isteri berlomba-lomba jadi yang terbaik dalam hal menunaikan hak dan kewajibannya masing-masing. Bukan malah berlomba-lomba saling menuntut. Haish, pipis masih di celana aja udah ngomongin suami-isteri gini. Uehehe.

» Intinya, IRT atau working mom itu tentang kesiapan sih, mana yang lebih siap dijalani, ya jalani ajah. Nah, masalahnya kan tiap keluarga punya kesiapan masing-masing gitu. Tapinya nggak boleh saklek juga sih. Maksudnya itu, kesiapan itu kan kondisinya beda-beda tiap tahun, tiap masa, tiap waktu. Hmmm, ummi aku misalkan, rencananya emang jadi IRT sampai aku melewati 'golden age' gitu, sambil nyiapin passion-nya buat jadi dosen dan peneliti. Jadi kalau dirasa udah siap untuk pindah dari IRT ake working mom atau sebaliknya, ya pindah aja, gpp. Life is short enihu, coba apa yang bisa dicoba, jalani apa yang bisa dijalani. Catatannya ya itu tadi kali; bertanggungjawab atas setiap peran yang kita punya.
Udah, gitu aja.

[repost]

Jumat, 15 Januari 2016

Wanita

Januari 15, 2016 0 Comments
Mungkin hampir disetiap harinya kita saling menyapa, berbicara seperti biasanya sebagaimana kita berbicara dengan orang-orang disekitar kita, tertawa bersama bahkan kita akhir-akhir ini sering bersikap bodoh, ya bisa dibilang mungkin kita masih dianggap anak kecil karena sikap kita.
Tapi, hari ini tepatnya setalah menjelang matahari tengah terik semuanya berubah. Ya, aku pun kaget kau bisa berbicara seperti itu. Entah kenapa, atau karena aku wanita yang sudah takdirnya 'perasa'. Setelah kau berbicara seperti itu, sangat mengganggu hati dan pikiranku. Ditambah ujian kesabaran ku hari ini begitu besar. Ya, kata seseorang teman pernah berkata kepadaku, sepelik apapun masalahmu atau tantangan dalam hidup, tetap bersikap tenang meskipun hati sedemikian rusuhnya. 

*Teringat
Ayah, jadi ini maksud dari semua yang kita bicarakan kala itu. Kau dulu pernah mengatakan bahwasanya seorang laki-laki jika sedang emosi, perkataannya sangat bisa untuk menyakitkan seorang wanita. Meskipun itu perkataan yang singkat. Apalagi kalau dikatakan dengan nada tinggi atau membentak. Sungguh, menghentakan hati ini. Tapi, kau hebat ayah. Dulu....dulu sekali saat aku masih kecil, engkau dan ibu pernah beradu pendapat. Kau tetap diam dan mendengarkan semua yang dikatakan ibu. Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulutmu tentang omongan yang menyakitkan. Kau sabar. Terus bersabar. Hingga saat ini. 

'Ah, ternyata memang benar. Sabar memang tidak ada batasnya, sekalipun kita masih kekeh jika sabar itu ada batasnya, ya ada....ketika kita sudah meninggal'

Ayah, aku malah menjadi takut ketika waktuku bersama mu sudah tak sebanyak seperti biasanya. Aku tahu diluar sana hanya sedikit orang yang bisa bersabar. Ya, tapi aku hanya bisa berdoa, semoga kelak laki-laki yang mendampingku memiliki kesabaran yang luar biasa. Terhadap sikapku, perkataanku, khususnya terhadap takdirku sebagai wanita. Aamiin.

Wanita - yang notabennya banyak menggunakan perasaan. Dibandingkan laki-laki yang banyak menggunakan logika. Sering kali bertolak belakang dan bisa menimbulkan percekcokan. Entah karena ego masing-masing yang masih belum habis atau masing-masing kita yang memang tidak tepat atau apalah. 

Sungguh, aku hanya berharap teruntuk semua laki-laki. Bahwasanya wanita adalah tulang rusuk yang bengkok tidak bisa dipaksakan lurus karena nanti ia akan patah, dan tidak pula terus dibiarkan bengkok karena nanti bengkok lebih menjadi. Maka bersabarlah untuk bisa meluruskannya. Dan kamu tahu, kenapa Allah ibaratkan seperti tulang rusuk. Kenapa tidak tulang kaki, tulang tangan atau bagian tubuh lainnya. Kenapa ? Sebab tulang rusuk itu dekatnya dihati untuk disayangi dan disamping tangan untuk dilindungi.

Baik. Demikian tulisan singkat yang bisa ku paparkan sebelum aku terlelap. Semoga dengan pelajaran hari ini, pemahaman ku bisa jadi semakin baik :))

Keep Tangguh Sef !!!

16 Jan 2016 | 00.58 WIB

Selasa, 29 Desember 2015

Bertahan

Desember 29, 2015 0 Comments
Tahun 2012 menjadi awal baginya untuk bergabung di dalam organisasi itu. Mungkin, memang sudah menjadi goresan takdir-Nya untuk dirinya kala itu. Yang sebelumnya tak pernah disadari, bahwa bermula dari organisasi itulah, Allah membawanya ke jalan yang benar - jalan yang Dia ridhoi. Ia merasa bahwa tahun itu, ia benar-benar hijrah. Hijrah ke arah kebaikan. Masya Allah. Sungguh, Allah telah menurunkan hidayahnya. Lantas apa yang terjadi ? Banyak. Sangat banyak perubahan yang terjadi. Terutama dalam hal hubungannya dengan Sang Pemiliknya - Allah SWT.

Awal-awal masa kepengurusan, ia memang masih merasa 'asing'. Belum menemukan makna yang mendalam disana. Ah, hal ini biasa terjadi, namanya juga permulaan. Tapi, seiring bergulirnya waktu, ia pun mulai merasa nyaman - dengan lingkungannya, temannya dan amanahnya. Tahun pertama di organisasi itu, baginya cukup spesial. Sebab, disitulah ia bisa melakukan apapun yang ia sukai, bebas berekspresi, tak mesti harus ini dan itu. Pada tahun pertama ini juga, ia merasa bahwa kamilah - anak tingkat satu (masih status anggota), yang masih menjadi 'perhatian' bagi kakak-kakak yang lain. Misal, sering ditanyakan kabar, ditraktir makan, bertukar kado atau sekedar duduk bersama. Sederhana. Memang, tapi ia bahagia karenanya. Merasa diperhatikan.

Namun, ia mulai menyadari bahwa diberi perhatian itu tak akan selamanya. Ada masanya. Masa dimana kamu tak lagi menuntut untuk diperhatikan melainkan sudah saatnya kamu yang memperhatikan.  Ya, masa itu adalah masa disaat kamu telah menjadi qiyadah (pemimpin) untuk adik-adiknya. Ditingkat dua dan tiga, masa dimana Allah mempercayakan ia untuk mengemban amanah mulia ini - membimbing adik-adiknya, mencurahkan perhatiannya, dan menjadi tempat untuk adik-adiknya agar selalu ingat kepada-Nya. Berat. Terasa berat ketika diamanahkan menjadi seorang qiyadah. Yang menjadi pertanyaan di dalam hati saat itu adalah apakah diri ini sudah pantas ? apakah amalannya sudah baik untuk bisa menjadi teladan bagi adik-adik ? Hatinya bergumam, ia merasa takut jika dalam perjalanannya nanti tidak bisa menjadi qiyadah yang baik. Takut saat dimintai pertanggungjawaban dihadapan-Nya nanti. 

Rabu, 25 November 2015

Pesan Ayah

November 25, 2015 0 Comments
Duhai anakku,
kemarin aku bertemu teman temanku,
.
Mereka dengan bangga menceritakan anak anaknya yang baru selesai S3,
.
ada yg baru saja datang ke wisuda anaknya di melbourne,
.
ada yg bangga karena anak semata wayangnya sudah menjadi dokter,
.
ada yg bangga karena anaknya jadi direktur dan manajer,
.
ada yg bangga karena anaknya menjadi pemenang cover girl,
.
ada yg bangga karena anaknya menjabat asisten manager,
.
ada yg bangga karena anaknya menjadi fashion designer,
.
ayah hanya mampu tersenyum dan mengucap selamat pada mereka semua,
.
Bukan karena ayah iri ataupun kecewa,
.
bukan pula karena ayah ingin berada di posisi mereka,
.

melainkan karena ayah bangga memiliki putri seperti dirimu,
yg hatinya tak pernah terpaut oleh dunia,
yang matanya tak pernah tergiur oleh emas mutiara,
yang pribadinya ayah doakan mampu menjadi anak sholihah.
.
.
ayah tak pernah memintamu untuk mampu menjadi mereka,
atau bahkan melebihi mereka,
karena ayah sadar kebahagiaan dunia takkan membahagiakan selamanya,
.
melainkan karena ayah bangga memiliki putri seperti dirimu,
yg hatinya tak pernah terpaut oleh dunia,
yang matanya tak pernah tergiur oleh emas mutiara,
yang pribadinya ayah doakan mampu menjadi anak sholihah.
cukuplah menjadi putri yg slalu ayah cinta,
dengan kesederhaan dan hijab syar'inya,
dengan ketaatanmu kepada Allah semata,
dengan ketaatanmu kelak pada suamimu saja,
.
cukuplah tutup auratmu,
cukuplah jadikan Al-qur'an sebagai teman hidupmu,
cukuplah doamu slalu untukku,
.
duhai putriku,
Cukup jadilah wasilah untukku dan ibumu meraih Jannah Allah,
tak perlulah kaya terlalu berlebih di dunia,
cukup mudahkan kami menuju syurgaNya.
.
maka ayah akan slalu bangga memilikimu,
Cukuplah ketaqwaanmu pada Rabbmu.
Mudahkanlah kami menuju syurga dengan akhlaqmu, jangan seret ayah dan ibumu ke neraka.
sungguh.. ayah dan ibu lebih bangga bila melihatmu tumbuh menjadi wanita sholihah.
sedang dunia dan rizeki yg lainnya semata mata bonus dari Allah saja.

@cahyaadityafajri

Rabu, 14 Oktober 2015

Nasehat Pagi

Oktober 14, 2015 0 Comments
Setiap kali engkau memperbaiki niatmu,
maka Allah akan memperbaiki keadaanmu.

Dan setiap kali engkau mengharapkan kebaikan tuk orang lain, 
engkau akan mendapatkan kebaikan dari arah yg tidak kamu sangka.

Dan saat kita hidup tuk membahagiakan orang lain, 
Allah akan memberi kita rezeki berupa orang lain yg akan membahagiakan kita.

Maka berusahalah tuk memberi bukan menerima. 
Karena setiap kali engkau memberi maka engkau akan menerima tanpa meminta sekalipun.

- Syaikh Shalih Awadh Al Mughamisi - 
(Imam Masjid Quba)

Kamis, 08 Oktober 2015

22 Tahun Lamanya

Oktober 08, 2015 0 Comments

Bismillah....

"Ya Rabb, jadikanah sebaik-baik umurku pada ujungnya, jadikan sebaik-baik amalku pada akhir hayatku dan jadikan sebaik-baik hariku pada saat aku bertemu dengan- Mu."

Tiga minggu lalu. Tepatnya 22 Sept 2015. Usiaku menginjak 23 tahun. Terima kasih ya Allah, Engkau masih memberiku umur yg panjang. Engkau masih memberikan kesempatan pada diri ini untuk berbuat kebaikan agar bisa menghapus dosa-dosa yang pernah ku lakukan dimasa lampau.

Ya Rabb,
Banyak. Sangat banyak. Bahkan seperti yang Engkau bilang. Andaikan pohon kelapa sebagai pena nya dan lautan menjadi tintanya. Tak kan mampu ku tuliskan semua nikmat, karunia, dan hidayah-Mu atasku.

Ya Rabb,
22 tahun lamanya. Banyak capaian dalam hidup yg telah ku raih. Banyak mimpi-mimpi yg tadinya hanya tertulis diselembar kertas menjadi kenyataan dalam hidup. Tak ayal juga, Banyak perubahan dari diri ini, tentunya ke arah pribadi yang baik. Ya, ketika sholihah itu cukup sulit bagiku, maka izinkan aku menjadi pribadi yg baik dari hari ke hari.

Ya Rabb,
Aku sadar, itu semua terjadi karena kuasa-Mu. Kaulah yg memampukan ku selama ini. Kau ajarkan aku melalui proses-proses kehidupanku. Tentang keikhlasan. Kesabaran. Memaafkan. Kekecewaan. Juga, kebahagiaan. Aku yakin, apapun yang menjadi keputusanmu, itu adalah yg terbaik untukku.

Ya Rabb,
Ini tentang orang tua ku. Ayah dan Ibu. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku diwaktu kecil. Ampunkanlah dosanya. Teguhkanlah hatinya. Mudahkanlah mereka dalam menjemput rezekimu. Panjangkanlah umurnya, agar bisa mempersiapkan dengan optimal bekal dimasa depan nanti-akhirat. Izinkanlah mereka agar bisa merasakan nikmat dan kebahagiaan atas kesuksesan dan kesholehan anak-anaknya.  Izinkanlah ya Allah. Dan izinkan aku agar bisa sedikit membalas jasa mereka. Ya, meskipun tak seberapa.

Ya Rabb,
Ini tentang temen-temanku. Saudaraku. Lingkungan sekitarku. Terima kasih atas banyak orang yg kau kirimkan untukku. Aku bersyukur dan kagum bisa dipertemukan dengan mereka. Mereka yg sangat peduli, perhatian, saling mengingatkan dalam kebaikan, saling menguatkan dan saling mendoa dalam diam. Ah, betapa 'manis' rasanya. Masha Allah. Ya Allah, jikalau suatu saat nanti kami berpisah. Pertemukanlah kami kembali. Jika tidak didunia, ku berharap bertemu di surga-Mu.

Ya Rabb,
Ini tentang harapanku. Masa depanku. Aku tak tahu bagaimana masa depanku nantinya. Yang bisa ku lakukan adalah ikhtiar seoptimal mungkin dan berdoa kepada-Mu. Mudahkan. Mudahkan. Apa yang menjadi hajat ku untuk ke depannya. Kuatkan dan teguhkan hati ini.

"Ya Allah, Sesungguhnya Engkaulah yg membolak-balikan hati manusia. Engkaulah yg mengajarkan hikmah kepada manusia. Maka lapangkanlah dadaku untuk senantiasa mampu menerima dan memahami cahaya-Mu. Kuatkan aku atas segala kelemahanku. Bimbinglah aku atas segala ketidaktahuanku. Maafkan aku atas segala kesalahanku. Ampuni aku atas segala dosaku. Dan ku serahkan hidup dan matimu, kepada-Mu." Aamiin

Barakallah fii umrik SEFI INDRIA.

*Jazakumullah khair atas semua kado terindahnya.

Selasa, 06 Oktober 2015

Kisah Cin-TA ku

Oktober 06, 2015 0 Comments


Ini tentang sebuah rasa. Rasa yang menjadi fitrah setiap anak manusia. Karunia yang luar biasa dari Tuhan-Nya. Rasa yang bisa membuat orang rela berkorban baik waktu, tenaga, pikiran bahkan sampai hartanya, untuk berjuang mendapatkannya. Demi sebuah rasa bernama Cinta. Setiap orang pasti akan berjuang sampai titik penghabisan untuk meraihnya. Luar biasa. Tapi, apakah akan sama perlakuannya untuk kisah cin-TA (read : Tugas Akhir) yang satu ini ? Kisah cin-TA yang mungkin, orang yang mendengar pertama kalinya, akan menghindarinya. Langsung tutup telinga. Pergi jauh-jauh darinya.

Kamu mahasiswa tingkat akhir ?
Ya, ketika title mahasiswa tingkat akhir itu mulai melekat. Banyak. Sangat banyak sekali pertanyaan yg terlontarkan dari orang tua, saudara dan teman. Mereka berkata “Bagaimana progress cin-TA nya, kapan seminar, kapan sidang, kapan lulus.” Huuh. Terasa bebal mendengarnya. Bosan. Tapi, begitulah yang memang seharusnya terlontarkan untuk kita para mahasiswa tingkat akhir. Cukup berpikir positif dan mencoba menerjemahkan pertanyaan itu, bahwa mereka sangat peduli dengan kita. Ya, itulah yang mestinya menjadi pemacu untuk segera menyelesaikannya. Urusan cin-TA satu ini.

Kawan,
Langkah pertama untuk memulainya menjadi selalu yang terberat. Tapi mau sampai kapan jika tidak memulai dari sekarang ? Ayolah, bergerak. Kalahkan egomu. Hadapi. Jangan merasa lemah ketika rasa malas itu menghampirimu. Jangan menyerah. Kamu harus berani. Pasti bisa. Kamu harus yakin, kalau kamu mampu menyelesaiakan ini semua sendiri. Karena ini adalah kisah cin-TA mu. Tak mungkin orang lain yang akan mengambil peran dalam urusan dihidupmu. Bebas. Tentukan saja jalan cerita mana yang ingin kau ambil. Ingin cepat lulus atau lama lulus ? Ingin meringankan beban orang tua atau menambah beban orang tua ?
Sederhana. Hanya saja, kamu yang mudah tergoda dengan urusan lainnya.

Kawan,
Inilah kisah cin-TA ku. Aku yang selau berjuang untuknya. Aku yang rela berlelah-lelah untuknya. Aku yang berani mengurangi jatah tidurku disetiap harinya. Aku yang harus berjalan sendiri untuknya. Bahkan, aku yang sampai masuk rumah sakit karena aku sangat cin-TA kepadanya. Lebay. Memang sangat lebay. Tapi inilah bukti cintaku meraih cin-TA nya. Selayaknya saat kita berjuang untuk meraih cinta yang sesungguhnya. Dahsyat.

Kawan,
Lantas alasan apa lagi yang membuatmu tak bergerak sampai sekarang ? Dosbing (read : dosen pembimbing) mu menuntut untuk sempurna pada tugas akhirmu ? Dosbingmu sering ke luar kota dan ke luar negeri ? Atau data yang kamu ambil masih ada yang kurang sehingga kamu harus turun ke lapang lagi ? Ah, ini nih yang menjadi senjata mahasiswa  kalau ditanya, bagaimana progress tugas akhirnya ? bla...bla... kebanyakan excuse, seperti diatas. Hei, kamu. Kamu yang sudah bergelar sebagai ‘Maha’siswa.  Kamu itu agen intelektual loh. Mesti cerdas dalam menyikapi setiap permasalahan dan jeli terhadap peluang yang ada. Kalau disuruh cari data lagi, ya, laksanakan. Kalau banyak revisian, ya, kerjakan. Kalau dosen lagi pergi ke luar kota atau ke luar negeri, ya, persiapkan bagian yang lainnya. Cukup deh. Berhenti cari-cari alasan. Buat susah sendiri aja. Ambil celah dari setiap permasalahan dan berpikirlah layaknya kaum intelektual.

Kawan,
Cerita tiap orang itu beda-beda. Unik. Terkadang bisa membuat kita tertawa lepas. Membuat kita merenung. Bahkan, bisa membuat air mata ini tak mampu tertahan. Apalagi, jika sudah berbicara mengenai takdir-Nya. Ini persoalan yang berat. Tentang takdir, mau menerima atau menolaknya, dia akan tetap terjadi. Takdir tak mengenal kamu siapa, sedang apa, dan bagaimana perasaannya. Tapi yang terpenting, ketika takdir yang tak kamu harapkan itu ‘menyapa’, mulailah menerimanya dengan lapang dada. Cobalah mengambil hikmah dan pembelajaran dari setiap goresan ttitah-Nya.

Kawan,
Inilah kisah cin-TA ku. Ketika semua permasalahan teknis atau konseptual berhasil aku lalui, tapi untuk urusan ini aku tak bisa berbuat apa-apa. Ya, inilah kisah takdirku, dari-Nya. Aku yang Dia kirimkan nikmat sakit, menjelang H-1 ujian tugas akhirku. Aku yang harus berbaring dirumah sakit beberapa hari. Aku yang banyak merepotkan orang lain. Dan aku yang membuat orang tuaku menangis serta jauh-jauh harus datang untuk menjemputku. Huuh. Sedih. Campur aduk rasanya. Saat itu, aku hanya bisa pasrah dan ikhlas. Dan pada akhirnya aku pun memutuskan untuk membatalkan ujian tugas akhirku. Kecewa. Itu pasti, tapi aku sadar bahwa kekecewaan itu adalah cara Tuhan dalam berkata bahwa Dia mempunyai sesuatu yang lebih baik untuk ku nantinya. Itulah janji-Nya, bahwa bersama kesulitan itu ada kemudahan. Dan ambillah pelajaran darinya, bahwa jikalau setiap harapan kita selalu berjalan sesuai rencana, mungkin kita tak pernah belajar bahwa kecewa itu menguatkan.
****

(Alhamdulillah tulisan ini bisa menjadi salah satu kontributor dibuku antalogi 'Tugas Akhir' -Penerbit Genom 2015)

Semoga bermanfaat...

Rabu, 30 September 2015

UJIAN PALING BERAT yang bernama KEMUDAHAN .

September 30, 2015 0 Comments
1. Kehamilan dan persalinan yg mudah, lancar, normal cenderung tanpa kesulitan.. Sering membuat mencemooh yg susah hamilnya, penuh resiko, atau bErmasalah dgn kata2 mandul, manja, dll
.
2. Anak-anak yg cenderung sehat, serba normal, penuh aktivitas, mudah di urus, penuh kasih sayang.. Sering menimbulkan rasa riya' merasa diri ibu sempurna hingga merendahkan ibu yg lain dan enggan belajar..
.
3. Suami yg setia, ndak neko2, romantis dan begitu perhatian, membuat terlena untuk memperbaiki diri dan akhlak agar terus menjadi bidadari surga dan bukan pencela pasangan lain yg bermasalah..
.
4. Keuangan yg stabil, bahkan berlebihan, kadangkala membuat terlupa menengok ke bawah, lupa rasanya bersyukur, mudah menghakimi yg lain pemalas dan tak mau kerja keras layaknya dirinya..
.
5. Orangtua dan mertua yg pengasih, mudah beradaptasi, membuat kita merasa sempurna sbgai anak, sering membuat kita mudah menghakimi mereka yg brmasalah dgn orangtua dan mertua sebagai anak durhaka, tak tau terima kasih kasih..
.
6. ilmu yg tinggi, pengetahuan yg luas tanpa sadar membuat kita merasa lebih mumpuni, malas mengejar ilmu2 yg lain, akhirnya merendahkan dan menyepelekan mereka yg kita anggap tak seluas kita ilmu dan pengetahuannya.
.
7. Kemudahan dalam ibadah, sholat yg kita anggap tak pernah lalai, puasa yg tk putus, zakat milyaran rupiah, shodaqah tak terhitung, haji dan umroh berkali2, membuat kita merasa paling alim dan takwa, tanpa sadar tidak lagi mau belajar dgn alim ulama, enggan bergaul dgn mereka yg kita anggap pendosa..
.
Kemudahan itu ujian yg berat, melenakan sering mendatangkan penyakit hati tanpa disadari.. berhati-hatilah.

[Ustadz Hasan Al-Jaizy]

Rabu, 23 September 2015

"Semua Akan Cie Cie Pada Waktunya"

September 23, 2015 0 Comments
Dari sekian majelis yang pernah saya belajar di dalamnya, saya melihat perempuan lebih rajin mencatat. Kebalikan dari laki-laki. Malas mencatat. Tapi tidak jarang saya dapatkan laki-laki malah lebih bagus jawabannya dibandingkan perempuan, padahal tidak mencatat. Apa yang bisa dipelajari dari sini? Yang bisa dipelajari adalah:
- Bahwa laki-laki lebih menguasai hal-hal global daripada perempuan.
- Bahwa perempuan lebih menguasai hal-hal rinci daripada laki-laki.

Makanya, pemetaan pikiran laki-laki biasanya lebih global, simple, meluas dan tepat dibandingkan perempuan yang kadang pemetaan pikirannya lebih fokus ke furu' mufashshalah (cabang-cabang rinci) yang bahkan kadang menurut laki-laki ga penting sama sekali.

Contoh:
Laki-laki kalau mau safar (bepergian), modal dengkul juga jadi. Simple. Tapi perempuan? Jangan harap cuma modal pakaian. Perempuan lebih berfikir ke furu', sampai minyak kayu putih, bahkan sampai memikirkan jarum. Kayak mau nyantet orang aja :)

Laki-laki kalau mau ke kajian, atau ke mall, atau ke pasar, atau ke kantor, tidak begitu memikirkan kosmetik. Asal baju rapih dan matching, selesai. Jangan tanya perempuan tentang mereka saat mau pergi ke sana.
Laki-laki saat di kajian, mendengarkan ustadznya, sambil menata mind-mapping global. Rincinya tidak penting-penting amat. Ego dan rasa 'keperkasaan' mereka akan berkata, 'Ah, gue juga bisa mikirin rincinya sendiri tanpa di-talqin'. Beda sama perempuan, mendengarkan ustadznya, sambil banyak mencatat. Sehalaman, dua halaman, sampai banyak. Setelah itu ya sudah. Kalau diadu sama laki-laki, malah bisa kalah. Karena laki-laki lebih menguasai ushul (masalah-masalah pokok -red), sedangkan perempuan lebih menguasai furu'(cabang -red). Dan mereka yang menguasai ushul, lebih layak jadi pemimpin daripada yang lebih dominan penguasaan furu'. Iya. Kalau diadu sama laki-laki, malah bisa kalah. Tapi kecenya, kalau laki-laki ternyata yang kalah, mereka akan beralasan, 'Ya wajar lah, wong akhwat pada nyatet, saya nggak.'

Ga wajar, mas. Antum cuma jiping (ngaji kuping), jihadnya di telinga doang. Beda sama akhwat-akhwat itu, mereka jihadnya di kuping, tangan dan hati. Jihad di kuping? Ya dengerin. Jihad di tangan? Ya mencatat. Jihad di hati? Ya menahan perasaan supaya ga suka sama ustadznya. (emoticon merem lalu ada setetes keringat di pojok kepala sebelah kiri)

Laki-laki itu exist di pertama. Dia bisa berfoya dengan kemegahan. Tapi semegah-megahnya bujang dan jomblo, kalau belum beristri, maka kemegahannya ghayru mu'tabar (gak ter-anggap). Malah dunia akan tertawa kalau seorang bujang sudah mapan tapi belum mau beristri. Mencari ilmu pun tidak. Ini abnormal. Perlu dipertanyakan dosis kelelakiannya. Coba tengok kisah Nabi Adam.

Nabi Adam alaihissalam, awalnya tinggalnya di surga. SURGA! SURGA! Apa sih yang ga enak di Surga? Enak semua, bro! Apa-apa azek. Tapi semegah-megahnya taraf hidup beliau di Surga, tetap saja beliau suatu kala merasa murung. Ada yang kurang. Ada fitrah yang belum dilengkapi. Ada relung jiwa yang belum diisi. Perempuan. Ah, itu dia. Hidup laki-laki sehebat apapun tetap saja dependant (tergantung) pada makhluk halus bernama 'perempuan'. Maka, Allah berikan pasangan buat Nabi Adam. Seneng....

Tapi memang sudah lazimnya. Ujian mesti ada. Susah seneng tetap saja ada ujiannya. Nabi Adam meminta perempuan, namun kemudian dengannyalah beliau terjatuh. Ke bumi. Ke dasar. Cobaannya ada.
Makanya, jangan mengira after-marriage itu ketemunya Surga doang. Salah besar. Ujiannya banyak. Kegalauannya malah lebih banyak, lebih rutin dan lebih tinggi intensitasnya dibandingkan kegalauan bujang. Tapi tentu saja penyembuhnya lebih available dibandingkan buat bujang. Semua itu kalau di-manage sesuai syariah, bakal berpahala besar.

Dan dari semua kegalauan, baik sektor ekonomi, sosial, dan psikologi, ternyata laki-laki sangat matching untuk menghadapinya bersama perempuan. Tidak bisa satu doang. Harus berdua. Kenapa? Karena laki-laki lebih menguasai ushul, sedangkan perempuan lebih menguasai furu'.

Dari sektor ekonomi, laki-laki lebih mampu mencari uang banyak dan memang keharusannya mencari nafkah. Pas awal bulan (bagi orang kantoran moo MPEG n), seluruh atau sebagian uang di-manage istri. Ada nafkah khusus buat istri, ada juga dana umum. Istri, yang lebih suka masalah furu', bakal lebih mampu handle ini. Really. Kalau laki-laki yang handle beginian, istri bisa terzhalimi. Rumah tangga bisa rapuh. Sudahlah, biar ditangani istri. Nanti pas belanja bulanan, di market istri cari semua barang di semua rak, suami cuma cari satu: bangku. Hehe.

Dari sektor sosial, laki-laki tidak begitu suka 'kepoin' orang secara detail. Beda bingits sama perempuan. Makanya, tensi ghibah perempuan lebih besar daripada laki-laki. Makanya juga, anak-anak ngaji yang lebih suka ngomongin fulan dan fulan, itu lebih layak digelari 'banci mengaji' dibandingkan anak ngaji. Mirip perempuan. Makanya gan, jangan mengetahui personal seseorang secara detail, karena pengetahuan tersebut bakal mendorong untuk berghibah. Kecuali personal Rasulullah. Itu lain lagi.

Baiklah. Kemudian, istri lebih bisa dijadikan senjata untuk urusan-urusan sosial. Arisan, rukun tetangga, musyawarah di gerobak sayur sambil acak-acak barang dagangan, kajian-kajian kampung dan pesta pernikahan. Itu semua girly (baca: emak-emak) banget. Tentu saja aneh jika arisan hanya dikuasai laki-laki, lalu para bapak-bapak ngegosip di gerobak sayur. Ga pantes. Makanya, kalau mau siarkan nikah di kampungmu, tidak usah repot-repot buat kertas undangan. Irit aja. Itu buat orang jauh aja. Untuk sekelurahan, cukup bicara sama nenek-nenek atau emak-emak "Saya mau nikah sama
"namalengkap(spasi)tanggal(spasi)dimana(spasi)kok bisa ya?""

Dari sektor psikologi: laki-laki dengan keperkasaannya akan rapuh tanpa perempuan, dan bisa mudah rapuh karena perempuan. Perempuan dengan kelembutannya bisa menjadi pejuang gigih karena laki-laki. Berjuang sabar, tekun, baik-baik...

Siapapun dari sesiapa punya harapan tentang siapa, namun siap-siaplah. Jangan sampai hanya berharap tanpa bekal dan perjuangan. Semakin besar perjuanganmu dan kesabaranmu, menunjukkan semakin kamu menghargai harapanmu dan menghargai dia yang kamu harapkan. Iya, menghargai dia, yang kamu harapkan. Barangsiapa yang menghargai, ia akan dihargai.

Tetaplah kamu laki-laki menjadi pemimpin
Tetaplah kamu perempuan menjadi sandaran pemimpin.

Saat kamu datang ke kondangan "fulan vs fulanah", mereka akan bertanya 'kapan kamu nyusul'. Sakitnya tuh di sana sini.
Pas ngobrol asik-asik sama temen-temen, mulai ada yang membahas topik begitu, 'kamu kapan?' Sakitnya tuh di perasaan.

Lihat pasangan halal gandengan enak banget. Lalu, karena ga ada yang bertanya, malah diri sendiri yang bertanya, 'saya kapan?' Sakitnya udah ga pake perasaan.

Kalau mengingat pertanyaan 'kamu kapan?' 'kamu kapan?' 'kamu kapan?', rasanya sendi-sendi begitu sakit. Memang, sendi-sendi biasanya sakit karena sendirian.

Tapi percayalah, (emoticon senyum), kamu ga 4usah banyak kirim biodata, cukup perbaiki diri, kirim proposal kepada Allah setiap selesai shalat dan setiap 1/3 malam terakhir, jaga diri, pantaskan diri dan tawakkal, maka:
"Semua Akan Cie Cie Pada Waktunya"


[Ustadz Hasan Al-Jaizy]

"Cara Masuk Surga Sekeluarga"

September 23, 2015 0 Comments
1. Coba suatu hari ingatkan seluruh anggota keluarga begini; "Kita kerjasama agar masuk surga sekeluarga yuk?"
2. Bagaimana caranya? Lihat surat Ath Thur ayat 25-26. Para penghuni Surga membocorkan rahasianya bagaimana cara masuk Surga sekeluarga. Mau tau?
3. Ceritanya penghuni Surga saling bercengkrama berhadap-hadapan, masing-masing bertanya jawab bagaimana keluarga kalian dulu, koq bisa masuk Surga?
4. Jawabnya seragam; "Kami bisa masuk Surga karena dulu di Dunia, dikeluarga kami saling mengingatkan satu sama lain tentang siksa pedih Neraka".
5. Karenanya Visi rumah tangga orang beriman adalah: "Peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa Neraka" (QS At Tahrim; 6).
6. Rumahku Surgaku, akan terjadi jika masing-masing anggota keluarga memelihara dirinya dan mengingatkan anggota keluarga lainnya dari siksa Neraka.
7. Siapa yang tak sedih jika ada salah seorg anggota keluarganya (ayah, ibu, kakak atau adik) terjerumus ke lingkungan siksa "Neraka"?.
8. Setiap anggota keluarga pasti sangat sedih jika Bahtera Keluarga pecah dan karam akibat terpaan gelombang kehidupan dunia yang mematikan.
9. Agar masuk Surga sekeluarga, ingatkan anggota keluarga kita yang sedang khilaf berbuat dosa atau lalaikan perintah Allah, jangan dibiarkan.
10. Jangan kecewa kalau peringatan kita diabaikan, atau malah dilecehkan, karena dakwah di tengah keluarga kadang lebih berat, jangan lupa doakan.
11. Nabi Nuh as tak pernah bosan mengingatkan anaknya yg tersesat, Nuh as terus mendoakannya sampai akhirnya Allah tenggelamkan Kan'an.
12. Nabi Luth as tak pernah berhenti memperingatkan isterinya yang membangkang, sampai akhirnya Allah binasakan isterinya bersama kaum Sodom.
13. Asiah binti Muzahim, tertatih -tatih peringatkan suaminya Fir'aun, konsisten mendidik Masyithah & Musa as, akhirnya Asiah yang dibunuh Fir'aun.
14. Habil tak pernah takut mengingatkan dan menasehati kakaknya Qabil, rasa iri dan dengki berkecamuk sampai akhirnya Habil dibunuh Qabil.
15. Agar bisa masuk Surga sekeluarga perlu perjuangan dan pengorbanan yang besar, selain itu kesabaran dan konsistensi juga harus dilakukan.
16. Ingatkan suami agar bekerja ditempat yang halal, jangan bawa pulang penghasilan yg haram, krn akan jadi bahan bakar neraka Rumah Tangga.
17. Ingatkan isteri agar memperhatikan Pola Konsumsi Halal untuk keluarga, anak-anak akan susah diajak taat dan ibadah jika mengkonsumsi yang haram.
18. Ingatkan anak-anak bahwa bahan bakar Neraka adalah Batu dan Manusia, jangan sampai salah seorang dari kita jadi bahan bakarnya Neraka.
19. Ceritakan bahwa penjaga Neraka adalah Para Malaikat Perkasa yang kuat dan kasar, mereka tak pernah khianati Allah & pasti laksanakan perintahNYA.
Semoga bermanfaat buat kita dan keluarga kita masing-masing. Selamat beraktifitas yang indah bersama keluarga kita sampai akhirat yang husnul khotimah...
Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin

Oleh Ustadz Bachtiar Nasir 
(Sekjen Miumi Pusat)



Percakapan Seorang Ayah dan Anak Perempuannya

September 23, 2015 0 Comments
Seorang anak yang sudah remaja bertanya pada ayahnya.

Anak : "Ayah, mengapa seorang wanita itu sangat mudah menangis?"

Ayah : "Seorang wanita itu mudah menangis karena Allah menciptakan bahu yang cukup kuat untuk menopang dunia, namun harus cukup lembut untuk memberi kenyamanan..!"

Anak : "Menopang dunia?"

Ayah : "Iya, karena wanita memiliki peranan sangat penting di dunia ini..!"

Anak : "Bisa ayah jelaskan apa yang istimewa dari seorang wanita?"

Ayah : "Allah memberikan kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak, dan menerima penolakan yang sering datang dari anak2nya. Allah memberi kekerasan untuk membuatnya tegar saat orang lain menyerah, namun dia mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh.."

Anak : "Seistimewa itu yah..?"

Ayah : "Bukan hanya itu, Allah juga memberikan kepekaan untuk mencintai anak2nya dalam setiap keadaan. Bahkan ketika anak2nya bersikap sangat menyakiti hatinya.."

Anak : "Ternyata wanita itu sungguh luar biasa..ya ayah??!"

Ayah : "Masih ada lagi keistimewaan yang dimilik seorang wanita."

Anak : "Apa itu yah??"

Ayah : "Allah memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalan dan melengkapi tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya. Allah memberi kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa suami yang baik tak akan pernah menyakiti istrinya. Tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya untuk berada di sisi suaminya tanpa ragu."

Anak : "Lalu bagaimana dengan lelaki??"

Ayah : "Lelaki harus membuat wanita merasa nyaman dan terlindungi saat berada disampingnya. Jangan pernah membuat hati wanita terluka, jika lelaki berniat mempermainkan wanita, ingatlah pengorbanan wanita yang telah melahirkannya.